Jumat, 20 November 2009

Mari Galakan Transmigrasi

. Jumat, 20 November 2009
0 komentar


Mungkin banyak orang yang menyangka hidup di kota khususnya jakarta itu enak. Tetapi banyak orang yang hanya bisa bermimpi dan malah menambah banyaknya pengangguran di Indonesia. Kenapa masyarakat sekarang banyak yang menyangka bahwa hidup di kota besar seperti jakarta itu enak??? Padahal kalau kita liat dari sudut yang berbeda, lebih besar peran para petani untuk memajukan ekonomi indonesia. Lihat pada jaman pak harto, kita sudah bisa mengekspor beras ke luar negri, itu semua karena hasil kerja para petani.


Di indonesia sendiri harga-harga beras sekarang menjadi mahal. Dan sekarang juga masyarakat banyak yang lebih tertarik memakan beras import dari pada beras lokal. Padahal indonesia adalah negara yang subur untuk di jadikan lahan pertanian. Banyak di daerah-daerah terpencil lahan-lahan yang luas dan belum di olah. Mengapa pemerintah tidak memanfaatkan transmigrasi untuk mengolahnya, selain lahan tersebut tidak mubazir juga dapat menambah pemasukan negara dengan mengeksportnya ke negara lain.
Rezeki sudah di atur tuhan, jadi kita tidak perlu berpikiran bahwa bekerja di kota akan membuat kita kaya. Kenapa kita tidak memanfaatkan lahan yang ada saja??? Ayo galakan kembali transmigrasi.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Orang Miskin Tidak Boleh Sakit


Ponari sekarang udah jadi selebritis papan atas di negeri ini. Stasiun tv mana yang tidak pernah memberitakan Ponari secara eksklusif? Tidak ada yang mau ketinggalan. Ternyata yang ikut berdesak-desakan di halaman rumah Ponari bukan hanya pasien saja. Tapi para kuli tinta juga tidak ingin ketinggalan.
Seandainya anda dihadapkan pada pilihan untuk berobat, anda akan memilih dokter yang menyembuhkan secara medis atau ponari yang konon bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan batu ajaibnya?
Jawabannya pasti beragam. Bagi anda yang berduit pastinya akan lebih memilih berobat ke dokter yang mengobati secara lebih logis daripada harus berdesak-desakan mengantri di depan rumah Ponari. Namun bagi kaum miskin, mereka cenderung memilih berobat ke dukun kecil itu. Realitas menyedihkan yang terjadi dalam masyarakat kita. Itulah fenomena yang terjadi di balik cerita Ponari. Cermin keputusaan rakyat untuk mendapat perawatan dokter ternyata disambut dengan harapan akan batu ajaib milik Ponari.
Masyarakat kita sekarang ini tidak mampu berobat ke rumah sakit karena dirasakan biayanya sangat mahal. Pelayanan kesehatan bagi rakyat miskin yang diselenggarakan oleh pemerintah pun belum menjangkau keseluruhan masyarakat, sehingga kemunculan Ponari ini bagaikan angin segar bagi masyakat kelas bawah yang putus asa.



Saya ingin mengkritisi buruknya pelayanan kesehatan di Indonesia. Untuk wilayah ASEAN saja, Indonesia menempati urutan teratas. Saya heran kenapa untuk hal-hal buruk, kita seringkali tampil sebagai sang jawara. Ada apa dengan bangsa ini?
Mungkin kita akan dengan bangga mengatakan bahwa dulu Indonesia adalah negara yang lebih maju dibanding Malaysia. Itu dulu. Sekarang malah kita jauh tertinggal dari negara serumpun itu, hampir dalam segala bidang. Terutama dalam bidang kesehatan. Fakta bahwa lebih banyak orang Indonesia yang lebih memilih berobat ke Malaysia, karena mereka masih paranoid dengan dokter-dokter di negerinya sendiri. Kita telah sering dikecewakan oleh dokter hasil dalam negeri. Adanya diagnosa yang salah, malpraktek, dan ”tambahan” obat-obatan yang tidak perlu, adalah kasus yang lazim kita temui. Di benak masyarakat kita, dokter di Indonesia telah mempunyai stereotip ”teledor”.
Masalah kesehatan itu kan gak main-main. Orang berobat ke dokter itu pastinya dengan suatu harapan bisa sembuh, bukan makin dibuat lebih parah kan?
Dari sekian banyak dokter spesialis di Indonesia, saya sangat yakin bahwa hanya segelintir persen yang benar-benar bisa diandalkan. Bobroknya moral dunia kedokteran sebenarnya sudah dimulai sejak awal proses bagaimana seseorang itu bisa masuk di fakultas kedokteran. Biaya kuliahnya aja udah selangit. Konon lagi mereka-mereka yang mengambil jalur ekstensi. Biayanya pasti lebih tinggi. Parahnya lagi bagi mereka yang berduit dan kuliah di kedokteran hanya untuk menjaga gengsi. Motivasi mahasiswanya juga berbeda-beda kan. Bayangin aja jika salah satu bidang paling vital di negeri ini, yaitu bidang kesehatan ditangani oleh lulusan fakultas kedokteran yang bermotivasi untuk mendapat ”duit”.
Pantas saja begitu mahalnya harga kesehatan di Indonesia. Kebanyakan dari mereka (saya tidak mengatakan semua), membuka praktek dan menetapkan tarif mahal kepada pasiennya agar bisa ”balik modal”. Tanpa peduli apakah pasien itu kaya atau miskin. Ini bukan hanya pendapat saya, tapi ini adalah pendapat publik. Pasien hanya dijadikan komoditas untuk memperkaya dokter.
Oke lah jika sekarang pemerintah mengadakan askeskin dan berobat murah bagi rakyat kurang mampu. Lantas apakah masalahnya selesai? Tidak.
Seringkali kasus yang terjadi di lapangan, adanya sikap diskriminatif terhadap pengguna askeskin. Berharap mendapatkan pelayanan kesehatan, mereka dijadikan pasien kelas dua.
Contoh kasus nih ya, ada pasien kurang mampu yang udah sekarat berobat ke rumah sakit. Apakah ketika pasien itu tiba langsung pelayanan yang didapat? Tidak.
Jika pasien itu kurang mampu, maka harus ada surat keterangan tidak mampu dulu, sayangnya belum semua masyarakat miskin mendapat hak askeskin. Untuk membuat askeskin itu pun tidak gampang. Tau sendirilah bagaimana ribetnya birokrasi di Indonesia. Harus ada syarat ini itulah. Rakyat miskin dibuat makin susah.
Pihak rumah sakit lebih mengutamakan pasien yang ”membayar” daripada pasien yang hanya bermodal askeskin. Biarpun keadaan darurat, tetap saja mereka harus rela berada di ”daftar tunggu” setelah pasien yang membayar.

Jika anda miskin, jagalah kesehatan anda sebaik mungkin
atau
Rakyat Miskin Dilarang Sakit

Sepertinya tanda peringatan seperti itu bisa menjadi cara alternatif bagi rumah sakit-rumah sakit sombong yang kurang bersahabat bagi rakyat miskin. Inilah ironi yang terjadi pada masyarakat kita. Anda kaya? Silahkan sewa dokter terhebat dan dapatkan perawatan terbaik kelas dunia. Tapi jika anda miskin, silahkan tidur kembali diatas kasur reot anda dan bermimpi bahwa akan ada dokter spesialis baik hati yang akan mengobati anda secara gratis.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Batik Punya "INDONESIA"


Akhirnya, dunia mengakui batik sebagai produk budaya Indonesia. Unesco mengukuhkan batik ke dalam daftar representatif budaya tak benda warisan manusia atau Representative List of Intangible Cultural Heritage. Pengukuhan ini jelas menjadi kebanggaan tersendiri buat bangsa kita setelah melalui berbagai macam cara, negeri jiran, Malaysia, berupaya mengklaim sebagai produk budaya mereka.


Meski demikian, kita tidak cukup hanya berpuas diri pasca-pengukuhan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 2 Oktober 2009 itu. Batik tak cukup hanya dilestarikan, tetapi juga perlu terus ditumbuhkembangkan sesuai dengan tuntutan dan dinamika zaman. Dengan kata lain, batik tak hanya berhenti sebatas produk warisan budaya belaka, tetapi juga perlu terus mampu beradaptasi sesuai dengan gerak dan dinamika masyarakat pemakainya.
Dalam perspektif budaya, batik mengandung nilai filosofis yang cukup tinggi, baik dari sisi motif, cara pembuatan, hingga lamanya proses membuat selembar kain batik. Batik menyimbolkan doa dan harapan bagi pemakainya. Bukan hanya itu. Batik juga menunjukkan hasil jerih payah dan kesabaran pembuatnya.
Kurator Museum Batik Jogjakarta, Prayoga, menyatakan, tidak semua penggemar batik paham akan konsep dan filosofi di balik pembuatan kain batik. Pembuat kain batik, lanjutnya, harus dalam kondisi tenang saat membatik. Tak heran, beberapa pembatik harus berpuasa sebelum membatik. “Membatik itu butuh ketenangan. Kita tidak boleh membatik jika sedang gelisah karena akan berpengaruh langsung kepada kain yang kita batik,” tuturnya.
Membatik juga membutuhkan kesabaran dan disiplin ekstra. Dalam satu lembar kain batik, butuh beberapa kali tahap pewarnaan sebelum batik siap dipakai. “Bisa 17 kali kalau memang rumit. Dan, itu memakan waktu. Karena itu, kadang satu batik bisa dibuat hingga satu tahun,” ujarnya.
Kedisiplinan, lanjutnya, ditunjukkan dengan jumlah takaran malam yang pas. “Saat akan membatik, kita harus menakar penggunaan malam dengan pas. Tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Jika pekerjaan kita tidak selesai, entah itu malamnya kurang atau berlebih, berarti ada yang salah dengan kita,” kata pria berusia 55 tahun ini.
Dalam budaya masyarakat Jawa, kain batik tidak hanya digunakan untuk sandang atau pakaian. Batik menunjukkan prestise dan berfungsi mengungkapkan sesuatu. “Zaman dahulu, kalau anak laki-laki mau melamar, dia harus membawa kain batik dengan motif tertentu kepada orang tua si gadis. Dia tinggal menyerahkan dan orang tua langsung tahu apa maksudnya,” terangnya.
Dalam perspektif budaya Jawa, setiap motif batik memiliki kandungan makna yang berbeda-beda.
1.Batik Parang atau lereng menurut pakemnya hanya boleh digunakan oleh sentono dalem (anak dari ratu). Lereng berasal dari kata mereng (lereng bukit). Sejarah motif ini diawali ketika terjadi pelarian keluarga kerajaan dari Kraton Kartasura. Para keluarga raja terpaksa bersembunyi di daerah pegunungan agar terhindar dari bahaya.
2. Jenis batik truntum dipakai saat seseorang menggelar pesta hajatan. Motif truntum sendiri ditemukan oleh Istri dari Pakubuwana V. Saat itu beliau sedang menjalani hukuman karena melanggar peraturan kerajaan. Pada suatu malam beliau merenung dan memandangi langit berbintang yang ada di angkasa kemudian beliau menuangkan apa yang dia lihat dengan chanthing sehingga menjadi motif batik truntum.
3. Batik sidamukti dipakai oleh pasangan pengantin. Sidamukti sendiri melambangakan sebuah harapan, jadi seketika sepasang pengantin menggunakan kain sidamukti, maka muncul keinginan untuk mencapai kehidupan baru yang berhasil atau dalam bahasa jawa disebut mukti.
4. Batik sido drajad dipakai oleh besan ketika upacara pernikahan. Cara pemakaian batik juga memiliki nilai pendidikan tersendiri, berikut adalah beberapa uraian dari cara pemakaian kain batik. Bagi anak-anak batik dipaki dengan cara sabuk wolo. Pemakaian jenis ini memungkinkan anak-anak untuk bergerak bebas. Secara filosofis pemakaian sabuk wolo diartikan bebas moral, sesuai dengan jiwa anak-anak yang masih bebas dan belum dewasa dan belum memiliki tanggungjawab moral di dalam masyarakat. Ketika beranjak remaja maka seseorang tidak lagi mengenakan batik dengan cara sabuk wolo melainkan dengan jarit. Panjang jarit yang dipakai memiliki arti tersendiri. Seamakin pajang jarit maka semakin tinggi derajad seseorang dalam masyarakat semakin pendek jarit maka semakin rendah pula strata sosial orang tersebut dalam masyarakat.
Bagi dewasa pemakaian batik memiliki pakem tersendiri antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki wiru diletakkan di sebelah kiri. Sedangkan pada wanita wiru diletakkan di sebelah kanan, yang berarti nengeni. Artinya seorang putri tidak boleh melanggar khendak suami.
Semoga pengukuhan batik oleh Unesco terus mengilhami para perajin batik untuk terus melakukan inovasi dan mengembangkan kreativitasnya dalam menciptakan motif-motif batik yang sesuai dengan tuntutan dan dinamika zaman, hingga akhirnya tak ada negeri lain yang bisa mengklain batik sebagai produk budaya mereka. ***

Klik disini untuk melanjutkan »»

MACET = KERUGIAN


Pagi-pagi macet, siang-siang macet, malem-malem macet. Aduh kapan gag macetnya sih ni kota??? Indonesia khususnya jakarta termasuk kota termacet di dunia. Kenapa bisa begitu??? Ow saya juga gak tahu tuh. Hehehe... tetapi dari kemacetan di jakarta banyak sekali kerugian yang kita alami, pertama-tama adalah masalah bahan bakar.

Kalau sedang macet kan mau tidak mau pasti kendaraan kita seperti mobil dan motor harus selalu menyala, dan jika begitu maka bahan bakarnya akan terus berkurang dan habis karena kendaraan tersebut tetap menyala. Bayangkan jika kita seharusnya menggunakan bahan bakar 2 liter bisa untuk kita gunakan ke kampus selama 3 hari, tetapi karena macet kita bisa menghabiskan 2 liter per harinya. Wow, sungguh mahal sekali biaya dari bahan bakar yang kita gunakan dengan sia-sia karena macet. Apalagi kita masih berstatus mahasiswa yang belum bisa menghasilkan uang. Betapa beratnya.
Nah jika kita melihat atau mengalami hal yang seperti itu, maka kita mungkin akan bertanya-tanya, sebenarnya apa yang menyebabkan kemacetan ini? Setelah saya amati, semua ini terjadi karena banyaknya pengguna jalan seperti motor, dan mobil yang kurang sadar akan peraturan-peraturan lalu lintas. Dan khususnya pengguna sepeda motor, banyak sekali pengguna sepeda motor yang menyelip-nyelip jalan dan membuat kendaraan lainnya menjadi sulit untuk bergerak. (walaupun saya juga pengguna sepeda motor, tapi saya patuh peraturan kok, hehehe..) tidak hanya sepeda motor, kendaraan lain seperti mikrolet dan metromini juga sering menyebabkan kemacetan ini. Saya sering melihat supir-supir mikrolet yang sedang menunggu penumpang (bahasa gaulnya ngetem) di pinggir jalan sering sekali menghalangi pengemudi lain di belakangnya. Dan hal tersebut bisa menyebabkan kemacetan.
Jika kita pikir-pikir lagi berdasarkan dengan yang kita alami dan kita lihat, bahwa kemacetan tersebut disebabkan bukan karena jalanannya yang bermasalah. Tetapi para pengguna jalan tersebut yang bermasalah. Karena masih kurangnya sifat taat hukum atau aturan pada masyarakat di indonesia. Maka itu, jika kita ingin negara ini bisa terbebas dari kemacetan, kita mulai dengan mentaati peraturan yang berlaku.

Klik disini untuk melanjutkan »»

WAJIB BELAJAR 12 TAHUN


Wajib belajar 12 tahun??? Perasaan Cuma 9 tahun deh. Iya sih, pemerintah memang hanya memberikan pernyataan wajib belajar sampai 9 tahun. Tetapi menurut saya 9 tahun saja masih kurang untuk bekal pendidikan yang kita gunakan dimasa depannya nanti.


Karena sudah masuk ke era globalisasi, maka banyak para investor dari luar negri yang membuat perusahaan di indonesia. Maka dari itu pasti banyak yang memerlukan tenaga kerja yang handal dan hal itu tak akan di dapatkan jika tingkat pendidikan hanya sampai 9 tahun. Maka itu seharusnya pemerintah mencanangkan wajib belajar minimal 12 tahun, dan gratis. Dengan begitu mungkin bangsa kita bisa akan maju seperti negara-negara lain.

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
junior's blog is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com